Bismillah... Kedai buku ini bertujuan membantu teman-teman di malaysia yang memerlukan data untuk bahan kajian dan referensi, menambah wacana ataupun sekedar memenuhi rak perpustakaan pribadinya.

FENOMENA GLOBALISASI DAN CABARANNYA TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN AGAMA

Globalisasi ialah satu fenomena yang kian mendapat tempat terutamanya dalam wacana ekonomi antarbangsa sejak akhir-akhir ini. Ia juga tampak semakin wujud sebagai ciri dominan hubungan antarbangsa. Walaupun secara amnya ialah satu ideologi ekonomi, globalisasi semakin menerjah ke pelbagai aspek kehidupan seharian manusia dan memberi kesan kepada bukan saja sistem ekonomi disemua negara dunia tetapi juga sistem politik, sosial dan budaya mereka.1 Banyak yang berlaku dan berkaitan antara satu sama lain, justeru amat sukar untuk menjelaskan dengan tepat makna globalisasi.
Apabila disebut tentang globalisasi, rata-rata ramai yang masih belum mengetahui dan memahami maksud globalisasi dengan sebenarnya. Paling kurang istilah ini pernah didengari oleh sebab ia sentiasa diwar-warkan dan disebut-sebut oleh pelbagai pihak yang berpandangan jauh dan bersedia mengharungi arus globalisasi. Begitu juga, globalisasi sering dikaitkan dengan pemodenan dan teknologi canggih.
Globalisasi bermaksud mensosialisasikan pola atau sistem tertentu yang dimiliki oleh sesuatu negara atau kelompok sehingga menembusi seluruh dunia2. Globalisasi juga disebut dengan pelbagai istilah seperti ‘dunia tanpa sempadan’ (borderless world), ‘kampung global’ atau ‘desa sejagat’ (global village) dan ‘dasar langit terbuka’ (open sky policy) merupakan suatu fenomena tatacara baru dalam mewujudkan ciri-ciri pensejagatan. Dunia mahu dijadikan suatu pentas kecil supaya mudah terjangkau dalam waktu yang singkat. Dunia juga perlu dikuasai tanpa kehadiran secara fizikal kuasa besar secara langsung,3 manakala Asim. G pula memberi definasi globalisasi ialah proses yang menyebabkan masyarakat negara (atau bangsa) menjadi semakin saling terhubung dalam aspek ekonomi, politik dan budaya (yang) dimungkinkan oleh kaburnya batas goegrafi sebagai akibat pesatnya kemajuan teknologi, khususnya teknologi maklumat, pengangkutan dan komunikasi4Walau apapun, yang jelasnya kesan globalisasi bukan sahaja melibatkan perubahan yang besar dalam bidang ekonomi, politik dan sosial malah dalam bidang pendidikan.
Globalisasi dapat diertikan sebagai proses penduniaan nilai-nilai budaya kehidupan dari satu ruang budaya ke ruang budaya lainnya. Proses penduniaan --sebagai proses perubahan sosial yang cepat itu—didukung oleh teknologi komunikasi dan teknologi informatika yang memungkinkan kecepatan dan pertukaran pesan yang melintas ruang dan waktu budaya umat manusia di dunia5. Dengan kata lain, globalisasi boleh diertikan sebagai pengeluaran amalan ekonomi dan sosial ke satu budaya yang berbeza disebabkan oleh pertembungan budaya. Oleh kerananya, faktor penting untuk menghadapi globalisasi adalah pemahaman terhadap budaya itu sendiri.
Budaya boleh didefinasikan sebagai aspek persamaan yang dikongsi bersama dan mengikat individu dalam sesebuah masyarakat untuk memiliki simbol, idea, semangat, aspirasi dan visi yang sepunya hingga membezakannya dengan kelompok lain. Menurut Sammuel P. Huntington, budaya boleh dibahagikan kepada tiga bentuk, iatu:
1. Produk sesebuah masyarakat yang popular dan bersifat warisan (folk culture) seperti seni, sastera dan musik.
2.Cara kehidupan sesebuah masyarakat termasuk institusi, struktur sosial, struktur keluarga dan bentuk-bentuk lain yang bermakna kepada masyarakat terbabit.
Sesuatu yang bersifat subyektif seperti kepercayaan, nilai, tingkah laku, orientasi, tanggapan dan falsafah yang dapat menggambarkan keadaan masyarakat tersebut6
Dinamika dan pergeseran-pergeseran yang terjadi dalam ruang budaya adalah sebuah kenicayaan sejarah. KH. Abdurrahman Wahid dengan tegas menyatakan bahwa kebudayaan adalah buah yang hidup dari interaksi sosial antara manusia dan manusia, antara kelompok. Itulah wujud dari dinamisasi kebudayaan yang tidak pernah statis, tetapi selalu bergerak ‘menjadi’. Kebudayaan akhirnya seperti sebuah siklus alami yang tidak dapat dielakkan seperti dalil ‘masyarakat lahir, tumbuh, berkembang dan layu’ bahkan kemudian ‘mati’ akan tetapi kemudian akan dilanjutkan dengan kelahiran yang baru dengan siklus yang sama7. Itulah hakikat daripada dialektika kebudayaan.
Kembali pada perbincangan mengenai globalisasi yang hingga hari ini telah merambah dalam kehidupan masyarakat dipelbagai aspek kehidupan manusia moden merangkumi aspek sosial, ekonomi, budaya, politik, jati diri, kepenggunaan, kesedaran gender dan yang paling penting sekali adalah aspek pendidikan.8
Dari beberapa aspek tersebut, mungkin arus perubahan yang terbesar dari proses globalisasi terjadi pada aspek sosial, politik dan ekonomi. Terjadi kekhawatiran dalam pergeseran nilai-nilai norma yang diakibatkan kerananya terjadi degradasi moral dan proses dehumanisasi ditengah masyarakat. Pada kondisi ini ramai orang berharap pada bidang pendidikan --khususnya pendidikan agama-- sebagai satu sistem yang mampu menahan laju efek negatif globalisasi yakni terjadinya dehumanisasi tadi yang akan menghinakan kehidupan manusia. Sayangnya, lembaga pendidikan selama ini justru adalah lembaga yang paling malas untuk berubah atau malah cenderung tidak suka melakukan perubahan9
Tujuan Pendidikan
Pendidikan dalam pembahasan ini mencakup dalam erti yang luas iatu pendidikan formal, pendidikan nonformal dan pendidikan informal. Pendidikan formal diartikan pendidikan berperingkat-peringkat yang dilaksanakan oleh lembaga/institusi rasmi sama ada diselenggarakan oleh kerajaan mahupun pihak swasta. Pendidikan nonformal mengacu pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan lembaga-lembaga diluar sistem pendidikan formal, contohnya berupa bengkel/kursus, pelatihan, seminar, diskusi dan selalunya kegiatan ini dilaksanakan dengan perencanaa-perencanaan tertentu. Sedangkan pendidikan informal adalah suatu peristiwa dari suatu event yang kebetulan dijumpai oleh seseorang dan dia dapat belajar daripadanya. Hal tersebut tidak direncanakan sebelumnya, kemampuan seseorang untuk belajar tersebut sangat dipengaruhi oleh: kuatnya rasa keingin tahuan (curiosity) dan perbendaharaan pengetahuan (reportoire of knowledge) yang telah ada pada dirinya.10 Dalam pendidikan informal berarti pendidikan berkenaan dengan seluruh aspek kebudayaan yang mempengaruhi perkembangan manusia sehingga akan didapatkan proses bahwa manusia bukan hanya “berada” akan tetapi “mengada” menjadi manusia (being human)11
Membincangkan pendidikan berarti melibatkan banyak hal yang harus direnungkan. Sebab pendidikan meliputi keseluruhan tingkah laku manusia yang dilakukan demi memperoleh kesinambungan, pertahanan dan peningkatan hidup. Kerana itulah, apa yang dimaksudkan pendidikan tidak terbatas hanya kepada pengajaran.12
Salah satu unsur penting yang menopang masyarakat moden adalah berkembangnya ilmu pengetahuan. Kemajuan atau bahkan kemunduran sebuah peradaban sangat bergantung pada dinamika yang terjadi pada dunia ilmu pendidikan, dan itu dapat dikesan dari sebuah sistem yang diterapkan oleh masyarakatnya. Dasar bagi sesuatu sistem pendidikan haruslah berpaksikan kepada falsafah yang jelas. Biasanya falsafah inilah menjadi teras pendidikan. Ia mengandungi matlamat, corak dan kaedah pendidikan secara kasar, ciri-ciri yang hendak dibentuk dalam diri individu yang hendak menerima pendidikan tadi serta skop yang dirangkumi oleh proses pendidikan itu sendiri. Malaysia sebagai negara yang berkembang, pada tahun 1996 telah menetapkan falsafah pendidikan negara untuk mendokong majunya dunia pendidikan ditanah air.
Falsafah pendidikan negara malaysia itu tercantum dalam akta pendidikan 1996 yang lengkapnya berbunyi: Pendidikan di Malaysia adalah satu usaha berterusan ke arah memperkembangkan potensi individu secara menyeluruh dan bersepadu untuk melahirkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani berdasarkan kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan. Usaha ini adalah bertujuan untuk melahirkan warganegara Malaysia yang berilmu pengetahuan, berketrampilan, berakhlak mulia, bertanggungjawab dan berkeupayaan mencapai kesejahteraan diri serta memberi sumbangan terhadap keharmonian dan kemakmuran keluarga masyarakat dan negara13.
Sehingga dengan demikian, pendidikan mestilah bertujuan untuk melahirkan manusia yang benar-benar beradab yakni yang berilmu, berakhlak dan berkepakaran tinggi yang juga sebenarnya manusia global yang mampu mencapai makam-makam yang terpuji.14
Dalam buku Islam and Secularism, Naquib Al-Attas memberi huraian tentang tujuan pendidikan yang sedikit berbeda, yakni “tujuan pendidikan adalah untuk menanamkan kebajikan ataupun keadilan dalam diri manusia sebagai seorang manusia dan individu, bukan hanya sebagai seorang warganegara ataupun anggota masyarakat. Yang perlu ditekankan (dalam pendidikan) adalah nilai manusia sebagai manusia sejati, sebagai warga kota, sebagai warga negara dalam kerajaannya yang mikro, sebagai sesuatu yang bersifat spiritual, (dengan demikian yang ditekankan itu) bukanlah nilai manusia sebagai entiti fizik yang diukur dalam konteks pragmatis dan utilitarian berdasarkan kegunaannya kepada negara, masyarakat dan dunia.15
Logika yang dikemukakan Al-Attas bermakna warganegara atau pekerja yang baik dalam sebuah negara sekular belum tentu ianya seorang manusia yang baik, sebaliknya manusia yang baik sudah pasti ianya seorang pekerja dan warga negara yang baik.M. Quraisy Sihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an berpendapat bahwa tujuan pendidikan dalam Islam adalah membina manusia secara individu mahupun kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah. Dengan demikian tujuan ini nampak masih bersifat umum akan tetapi berlaku diseluruh dunia yang meyakini Islam sebagai pedoman hidupnya, sedangkan tujuan pendidikan yang bersifat khas terkandung unsur fleksibilitas yang perumusannya berdasarkan ijtihad para ulama sesuai dengan keadaan zaman, tempat dan waktu --ianya sangat tergantung pada siapa, bila, dimana dan bagaimana pendidikan itu dijalankan-- akan tetapi tetap tidak menyalahi tujuan umum tersebut.16
Cabaran Globalisasi Dalam Dunia Pendidikan Agama
Globalisasi yang telahpun dihuraikan pada awal tulisan ini, telah menjejaskan pula dalam bidang pendidikan termasuk pula pendidikan agama yang akan menjadi fokus dalam tulisan ini. Karena globalisasi itu sendiri datang daripada dunia barat yang notabene bukan negara Islam, sehingga bagi kaum muslimin proses globalisasi mendapat kecurigaan yang sangat besar. Kecurigaan tersebut bukanlah tanpa alasan kerana globalisasi berlaku bersamaan dengan adanya kolonialisasi dan imperialisasi yang dipraktekkan oleh dunia barat semenjak 500 tahun yang lalu dan semakin berakselerasi semenjak kejatuhan uni soviet pada tahun 1991.17
Dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam terjadi beberapa pergeseran nilai-nilai yang secara ringkas dapat kita petakan, perubahan metode transformasi ilmu kepada anak didik/pelajar yang memungkinkan terjadinya perubahan peran antara guru dan murid, perubahan materi substansi daripada pendidikan agama dalam pendidikan formal disebabkan adanya tuntutan-tuntutan sosial yang berlaku terhadap dunia pendidikan secara global.
Perubahan fungsi dan peran antara Guru dan Murid
Pedagogi pendidikan pada zaman dahulu dikenal dengan istilah banking concept, atau pendidikan bergaya bank. Pendekatan yang selalu digunapakai dalam gaya pendidikan ini adalah pendekatan bercerita (narrative approach) yang mengarahkan murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Dengan demikian, tugas murid hanyalah mendengarkan cerita guru, mencatat, menghafal dan mengulangi ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh guru, tanpa difokuskan untuk memahami arti dan makna sesungguhnya.18
Metode pendekatan semacam ini dengan mudah kita dapatkan contoh yang dipraktekkan didalam dunia pendidikan dilingkungan pondok pesantren yang masih bersifat salaf, dimana transformasi keilmuan masih bertumpu sepenuhnya pada kyai/ustaz.
Seiring dengan pergerakan zaman dalam era globalisasi ini, model pendekatan pendidikan diatas mengalami banyak pergeseran dimana sekarang peranan guru telah mengalami distorsi yakni peran seorang guru sekarang lebih ditekankan sebagai mitra belajar bagi anak didik, sehingga dalam proses pendidikan sesungguhnya seorang guru juga berproses dalam pembelajaran tersebut (lifelong learning)19
Dalam pandangan Islam, keguruan merupakan profession yang amat mulia. Guru itu merupakan al-mu’alim, menyampaikan ilmu yang benar, al-murabbi, menjayakan proses tarbiyah, al-mu’addib, mengajarkan adab dan budi pekerti, al-mursyid, membentuk kepemimpinan insan, dan al-mudarris, menitipkan pelajaran dan kemahiran20. Hal itu dapat kita fahami kerana pada masa dahulu anak didik kesulitan untuk mendapatkan maklumat dan informasi tentang segala sesuatu yang tengah dipelajari sehingga sumber satu-satunya sebagai sumber vital dan valid ialah berasal dari seorang guru.
Dengan berkembangnya kemajuan bidang sains dan teknologi sekarang justru terjadi kondisi yang terbalik dimana seseorang sekarang sangat mudah mendapat maklumat tentang segala sesuatu yang hendak ia ketahui menerusi laman web dengan melayari internet serta kemudahan dan kecanggihan sistem teknologi informasi yang telahpun berlaku pada masa ini. Masalah yang dihadapi oleh anak didik sekarang ialah kesulitan untuk melakukan filterisasi atau penyaringan dari kepelbagaian maklumat tersebut. Dalam kondisi seperti inilah fungsi guru mendapat cabaran hebat, sehingga guru dituntut untuk menjadi pembimbing (guides) dan juru latih (coaches) disamping guru itu sendiri dituntut untuk dapat menguasai sains dan teknologi dimaksud.
Transformasi keilmuan pada zaman dahulu menuntut kehadiran dari masing-masing pihak atau mutlaknya pertemuan dilakukan face to face antara guru dan murid. Sekarang gaya pendidikan seperti itu telahpun banyak berubah, dimana proses pendidikan yang memanfaatkan kemudahan internet seringkali tidak mensyaratkan adanya pertemuan lansung antara pengajar dan peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Contohnya dapat kita lihat dalam segmen e-learning yang menerusi internet ataupun sistem pembelajaran jarak jauh menerusi program open university.
Pada masa ini, sudah wujud dimana para pelajar cukup belajar dirumah kediaman mereka sahaja (home schooling) dan tidak perlu lagi pergi ke sekolah. Ini semua dapat dilakukan melalui teknologi komputer. Komputer boleh digunakan oleh seorang pelajar untuk berinteraksi dengan pelajar lain ditempat lain di dunia, melakukan kerja rumah, melihat perpustakaan universiti, menelaah buku klasik dan sastera melalui fail-fail internet, bekerja sama dalam projek-projek akademik dengan rekan mereka ditempat lain, dan bermacam-macam jenis lagi pengajian yang boleh mereka ikuti. Walaupun teknologi tidak dapat serta merta mengganti hubungan guru-murid seperti yang wujud sekarang, ianya boleh memberi alternatif kepada pendidikan yang lebih yang lebih beragam, menarik dan kreatif.21
Tuntutan Sosial Terhadap Dunia Pendidikan Islam
Tingkat keberhasilan dari sebuah sistem pendidikan saat ini diukur dari para graduannya yang “siap guna”, diperlukan oleh “pasaran kerjaya” dan sejauhmana ia boleh berkhidmat ditengah masyarakat baik menjadi kaki tangan kerajaan mahupun di sektor swasta. Kerana itu, dunia pendidikan dianggap sebagai “kilang” yang menghasilkan graduan yang kononnya kompeten untuk kehendak semasa.22
Tuntutan tersebut dapat kita fahami berlaku wajar ditengah gegap gempita nya kemajuan-kemajuan dibidang industri teknologi dan komunikasi yang sememangnya memerlukan ramai ahli yang mampu menjalankan aktivitinya. Pertanyaannya adalah sejauhmana dunia pendidikan bersedia merubah dirinya sendiri sebagaimana tuntutan sosial yang ada --dalam beberapa hal mengalahkan idealisme yang telah terbina sebelumnya-- ataukah akan tetap mempertahankan tradisi yang sedia ada sehingga menjadi “menara gading” yang terpisah dari lingkungan masyarakatnya?
Dalam kaitannya dengan perubahan yang sepatutnya dilakukan oleh dunia pendidikan Islam dalam menghadapi gelombang globalisasi, menarik untuk kita simak apa yang dikemukakan oleh Prof. Dr. M. Amin Abdullah dengan solusinya yang ia sebut pendekatan integratif-interkonektif, yakni merubah paradigma berpikir kita yang sebelumnya berusaha keras mengintegrasikan ilmu-ilmu yang bersifat normativitas-sakralitas untuk dileburkan menjadi wilayah “historisitas-profanitas” atau pun sebaliknya, membenamkan dan meniadakan seluruhnya sisi historisitas keberagamaan Islam ke wilayah normativitas-sakralitas tanpa reserve.
Paradigma berpikir seperti itu menurut Amin, sudah saatnya dirubah menjadi paradigma “interkoneksitas” yang berasumsi bahwa untuk memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun, sama ada keilmuan agama (termasuk agama Islam dan agama-agama lainnya), keilmuan sosial, humaniora maupun kealaman tidak dapat berdiri sendiri. Begitu ilmu pengetahuan tertentu mengklaim dapat berdiri sendiri, merasa dapat menyelesaikan persoalan secara sendiri tanpa memerlukan sumbangan dari ilmu yang lain maka akan terjadi fanatisme partikulasi disiplin keilmuan.23
Idea asas daripada konsep yang dikemukakan oleh Amin, ialah karena berbagai ilmu pengetahuan tersebut diperlukan kerana memungkinkan kita untuk melakukan analisis kritis terhadap kebenaran transenden, apalagi kebenaran yang teraktualisasi dalam kehidupan konkret melalui karya manusia seperti para mufassir, teolog dan fuqaha.24
Oleh itu, perlu dilakukan kerja-kerja perubahan bagi orang-orang yang terkait dalam dunia pendidikan kearah perubahan yang dituntut oleh keadaan yang sememangnya telah berlaku. Perubahan tersebut dapat dimulai dengan mengkaji ulang substansi materi yang diajarkan alam dunia pendidikan, seperti :
1.Menghidupkan kembali tradisi pemikiran agama yang bersifat kritis. Tradisi kritis ini bermula dari pengaruh pemikiran kritis filosofis terhadap segala bentuk pemikiran manusia, termasuk didalamnya adalah gugusan pemikiran keagamaan. Dengan tradisi ini berarti meyakini bahwa pemikiran Islam pada umumnya adalah produk sejarah yang tentu saja bersfat qalibun li al-taghyir dan qabilun li al-niqas.25 Melalui gerakan ini akan muncullah sikap desakralisasi kitab Fiqh, yakni mengasumsikan kitab fiqh sebagai penalaran manusia yang tidak menutup kemungkinan untuk dikritisi26 bahkan dikaji ulang relevansi kebenarannya dengan persoalan semasa.
Issu Kebangkitan dalam pemikiran Islam adalah topik yang akrab didalam sejarah umat Islam, khususnya bagi para ulama yang berusaha menghadapi tantangan dominasi dan pengaruh Barat dengan cara penegasan identitas Islam semenjak abad pertengahan XIX.27
Telah banyak para sarjana Islam yang mencoba menghidupkan kembali tradisi kritis ini, seperti diantaranya adalah Fazlur Rahman, Hassan Hanafi, M. Arkoun, Bassam Tibbi, Abdullah Ahmed an-Naim, M. Sahrour, M. Abed Al-Jabiri, Nasr Hamd Abu Zaid, Syed NAquib al-Attas, Syed Hossein Nasr dan lain-lain.
Kendala yang paling berat untuk menghidupkan tradisi kritis ini ialah kesulitan yang dihadapi oleh para pemikir untuk memasuki dimensi epistimologisnya28, kerana memang hingga sekarang belum banyak formulasi teoritis yang ditawarkan. Dengan demikian, meskipun pakar-pakar diatas telah menyaari pentingnya kritik epistimologis namun nampaknya mereka sendiri kurang memberikan respon lanjutan, berupa tawaran formulasi acuan dasar teoritis dibidang ini.29
2.Mengembangkan pendekatan ushul fiqh, yang berguna untuk mengetahui ketentuan-ketentuan Allah sanada yang bersifat definitif (qat’iy) ataupun spekulatif (zhanny).
Untuk melakukan upaya ini, tentu saja mensyaratkan pemahaman mendasar kepada ilmu kalam, ilmu bahasa arab dan ketentuan-ketentuan hukum dari aspek konsepsinya, kerana orientasi ushul fiqh adalah penetapan (affirmasi) atau peniadaan (negasi) terhadap ketentuan-ketentuan hukum itu sendiri.30
Wallahu a’lam




1 Harshita Aini Haroon, (2004) Globalisasi Bahasa: Antara Realiti dan Imaginasi, dalam Globalisasi Dalam Perspektif, Isu dan Cabaran, editor: Mohd Azizuddin Mohd Sani et.al, Selangor Darul Ehsan, IBSBuku Sdn Bhd, h.161
2 Yusof al-Qardhawi, (2001). Islam dan Globalisasi Dunia. (Terjemahan). Jakarta: Pustaka al-Kauthar.
3 Ahmad Zahid Hamidi, (tt). Gelombang Globalisasi: Menggarap Keampuhan Ummah di Malaysia. Putrajaya: Yayasan Islam Hadhari Malaysia, h.
4 Harshita Aini Haroon, (2004), ibid.
5 Alo Liliweri, M.S. DR, (2002) Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya, Jakarta LKiS hlm.42-43 Dalam buku itu juga dijelaskan 10 definasi daripada budaya yang pada intinya menjelaskan bahwa kebudayaan itu ada diantara umat manusia yang beraneka ragam, diperoleh dan diteruskan secara sosial melalui pembelajaran, bersifat dinamis dan nilainya relatif. (lihat hlm 7-10)
6 Lukman Z. Mohamad dan Azmi Abdul Manaf (2003), Globalisasi di Malaysia, Yeohprinco, Sdn Bhd, h.4-5
7 Listiyono Santoso (2004), Teologi Politik Gus Dur, Jogjakarta ar-Ruzz, h. 120-121
8 Pembahasan lebih detail dapat dilihat pada makalah Prof. Madya Dr Rahimin Affandi Abdul Rahim (et.al.) : PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM MENANGGANI CABARAN GLOBALISASI : PENGALAMAN APIUM, makalah adalah bahan kuliah IFGH 6312 (Pengajian Syariah di Malaysia) pada Akademi Pengajian Islam Jabatan Fiqh dan Ushul Universiti Malaya, 2008
9 Sindhunata, ed. (2000) Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Jogjakarta, Kanisius, h.12
10 Sindhunata, (2000), Ibid, h. 34,
11 Tilaar, H.A.R (2003) Kekuasaan & Pendidikan, Suatu Tinjauan Dari Prespektif Studi Kultural, Magelang, Indonesia Tera, hlm.62
12 Nurcholis Madjid, Prof.Dr. (2001) Pendidikan, Langkah Strategis Mempersiapkan Sumber Daya manusia Berkualitas, Sebuah pengantar dalam Indra Djati Sidi, Ph.D: Menuju Masyarakat Belajar, Mengagas Paradigma Baru Pendidikan, Jakarta, Paramadina, h.xi
13 Syed Othman Alhabshi, Dr. dan Hasnan Hakim, dalam Kertas kerja yang dibentangkan di Kongres Pendidikan Melayu di Dewan Merdeka, Pusat Dagangan Dunia Putra (PWTC), Kuala Lumpur, pada 1 – 2 September 2001, lebih terperinci penjelasan mengenai falsafah pendidikan negara dan hal-hal yang berkaitan dengan sistem pendidikan di Malaysia dapat dil;ihat dalam website Kementerian pendidikan: http://www.
14 Wan Mohd Nor Wan Daud, (2005) Pembangunan di Malaysia: Ke arah Satu Kefahaman Baru Yang Lebih Sempurna, dalam Siri Akidah dan Pemikiran Islam 3, Jabatan Akidah dan Pemikiran Islam Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya, cet. Kedua, h.95
15 Wan Mohd Nor Wan Daud, (2005) Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas: Satu Huraian Konsep Asli Islamisasi Penerbit Universiti Malaya, Kuala Lumpur, h.116
16 M. Jindar Wahyudi (2006) Nalar Pendidikan Qur’ani Yogyakarta, Apeiron Philotes, hlm.61-62
17 Lukman Z. Mohamad dan Khaidzir Hj. Ismail (2003) Melayu Hilang Di Dunia? Persoalan Identiti Nasional Dan Bangsa Malaysia Dalam Era Globalisasi, dalam: Lukman Z. Mohamad dan Azmi Abdul Manaf, Opcit, hlm 227
18 Muh. Hanif Dhakiri (2000) Paulo Freire, Islam dan Pembebasan, Jakarta, Penerbit Djambatan bekerjasama dengan Penerbit Pena, hlm. 47
19 Tor Geok Hwa, (2004) Mengembangkan Pemahaman Global: Cabaran Arus Globalisasi Terhadap Sistem Pendidikan di Malaysia, dalam Globalisasi Dalam Perspektif, Isu dan Cabaran, editor: Mohd Azizuddin Mohd Sani et.al, Selangor Darul Ehsan, IBSBuku Sdn Bhd, h.153
20 Wan Liz Ozman Wan Omar (2000) Mengurus Agenda Abad 21, Cabaran dan Persiapan Dalam Era Globalisasi, Kuala Lumpur, Golden Books Centre Sdn. Bhd. Hlm92; Lihat juga M. Jindar Wahyudi (2006) opcit, hlm. 52-57
21 Wan Liz Ozman Wan Omar (2000), ibid, hlm.91
22 Pembahasan lebih detail dapat dilihat pada makalah Prof. Madya Dr Rahimin Affandi Abdul Rahim (et.al.) : PARADIGMA BARU PENDIDIKAN ISLAM MENANGGANI CABARAN GLOBALISASI : PENGALAMAN APIUM, makalah adalah bahan kuliah IFGH 6312 (Pengajian Syariah di Malaysia) pada Akademi Pengajian Islam Jabatan Fiqh dan Ushul Universiti Malaya, 2008
23 M. Amin Abdullah (2006) Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Pendekatan Integratif-Interkonektif, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hlm.vi-vii
24 Suadi Putro (1996), Islam Menghadapi Tantangan Kemodernan: PAndangan Mohammed Arkoun, dalam:Tradisi Kemodernan dan Metamodernisme, Memperbincangkan Pemikiran Mohammed Arkoun oleh Johan Hendrik Meuleman (penyunting), Yogyakarta, LKiS, HLM.108
25 M. Amin Abdullah (2006), ibid, hlm.298
26 Ahmad Zahro, H. Prof. Dr. MA (2006), Desakralisasi Kitab Fiqih Sebuah Upaya Reformasi Pemahaman Hukum Islam, dalam: Dialektika Islam dengan Problem Kontemporer, Prof. Dr. H.M. Ridlwan Nasir, MA (editor), Penerbit IAIN Press dan LKiS, hlm.103
27 Abdullah Ahmed an-Na’im (2004), Dekonstruksi Syariah, Wacana Kebebasan Sipil, Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional dalam Islam, oleh: Ahmad Suaedy dan Amiruddin ar-Rany (penerjemah), Yogyakarta, LKiS, hlm.57
28 Epistimologi adalah wacana yang dewasa ini tengah diwar-warkan, berasal daripada bahasa Yunani: Episteme, yang berarti pengetahuan. Terdapat tiga persoalan utama dalam bidang ini: (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Darimanakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahui? Ini adalah persoalan tentang “asal” pengetahuan; (2) Apakah sifat atau watak dasar pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar-benar diluar pikiran kita, dan kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya? Ini adalah persoalan tentang: “Apa yang terlihat (appearance) pada satu sisi yang berlawanan dengan hakikatnya (reality)pada sisi yang lain”; (3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid) bagaimana kita dapat membezakan yang benar dan yang salah? Ini adalah soal mengkaji kebenaran atau verifikasi.
29 Sibawaihi (2004), Eskatologi al-Ghazali dan Fazlur Rahman: Studi Komparatif Epistimologi Klasik-Kontemporer, Yogyakarta, Penerbit Islamika, hlm. 10
30 Hassan Hanafi (2003), Islamologi 1, Dari Teologi Statis ke Anarkhis, oleh: Miftah Faqih (penerjemah), Yogyakarta, LKiS, hlm.103

Tirani Islam

Judul Buku :
Tirani Islam: Genealogi Masyarakat dan Negara
Penulis : Muhammad Syahrur
Penerbit : LKiS

Relasi Islam-negara hingga kini mewarnai pergulatan intelektual muslim. Pergualtan ini menghasilan dua hal: mereka yang mendukung berdirinya negara Islam (dalam konteks tertentu terbentuknya khilafah Islam) dan mereka yang puas dengan adanya konsep negara bangsa, dengan menjadikan Islam-legalistik sebagai subkultur dalam kultur bangsa yang plural-modern. Keduanya memiliki konsekuensi dan ideologi yang berbeda dalam praksis yang hingga kini terus menimbulkan pertarungan. Dalam buku ini, Muhammad Syahrur keluar dari perdebatan itu secara terbuka. Syahrur tidak berargumentasi sah atau tidaknya negara Islam. Hanya saja, secara implisit Syahrur mendukung negara sekular dengan menyebut bahwa negara Islam itu adalah negara sekular. Untuk mendukungnya, Syahrur melakukan sebuah eksplorasi jauh: melacak genealogi negara dalam al-qur’an.

Agama Borjuis

Judul Buku :
Agama Borjuis: Kritik Atas Nalar Islam Murni
Penulis : Nur Khalik Ridwan
Penerbit : Ar-Ruzz

Membaca Islam Murni tidak hanya cukup dengan “narasi permukaan” belaka, namun harus menggunakan model pengkajian “narasi tak terbaca”, sehingga tampak segala agregasi kepentingan yang berkelindan dalam wacana dan ideologi Islam Murni. Selama ini, yang hadir dalam kajian Islam Murni selalu dipermukaan saja. Oleh karena itu, buku ini merupakan sebuah karya genial menampilkan sebuah kekritisan dan genialitas penulisnya yang tidak tanggung dan superfisial. Walhasil, akan hadir pemahaman-pemahaman baru tentang wacana dan ideologi Islam Murni.
Pemahaman baru yang lahir dari rekonstruksi genial tersebut kembali didukung dengan parafrasa borjuis-proletar, sehingga penulis berhasil membongkar persoalan substansial yang terjadi pada masalah-masalah keagamaan yang selama ini begitu parsial menghegemoni pemahaman umat. Dengan memenangkan konteks daripada teks, berbagai tafsir baru mengemuka yang sangat sensitif terhadap wong cilik dan kaum tertindas. Darisana pula lahir tafsir pluraltas, tafsir pembebasan, tafsir heterogenitas dan tafsir-tafsir lain yang membumio. Oleh karena itu, berdialektikalah dalam wacana yang akan terus melakukan dekonstruksi.

Dialog Agama Negara

Judul Buku : Dialog Agama Negara
Penulis : Samir Amin & Burhan Ghalyun
Penerbit : LKiS

Krisi ideologi yang melanda negeri-negeri muslim telah menuntut adanya dialog keterbukaan bagi tercapainya common view dan sikap bersama diantara para pemikir, politisi dan pengusa.

Islamic Studies di Perguruan Tinggi

Judul Buku :
Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif
Penulis : Prof. Dr. M. Amin Abdullah
Penerbit : Pustaka Pelajar

Pemetaan studi agama pada sisi normativitas dan historisitas telah berhasil memberikan petunjuk dan peta (road map) bagaimana sesungguhnya ilmu-ilmu keislaman dibangun. Namun demikian, sikap “berpura-pura” untuk dapat menanggalkan atau membuang sama sekali ketegangan (tension) antar kedua sisi tersebut tidaklah mudah atau bahkan mustahil.
Buku ini hadir dalam rangka mengurangi ketegangan yang seringkali tidak produktif dengan menawarkan gagasan paradigma keilmuan interkoneksitas. Paradigma ini menegaskan bahwa bangunan keilmuwan apapun, baik keilmuan agama, sosial, humaniora maupun kealaman tidak dapat berdiri sendiri to be single entity, akan tetapi kerjasama, saling tegur sapa, saling membutuhkan, saling koreksi dan saling keterhubungan antar disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia dalam memahami kempleksitas persoalan kehidupan dan sekaligus upaya pemecahannya.
Kehadiran buku ini sekaligus mencairkan sekat-sekat tembok (stumbling block) antar berbagai pendukung keilmuan yang ada. Da, secara epistimologis paradigma interkoneksitas merupakan jawaban terhadap kesulitan yang selama ini diwariskan, dirasakan dan diteruskan berabad-abad dalam peradaban Islam tentang adanya dikotomi pendidikan umum dan pendidikan agama.

Militerisme Dan Anti Militerisme

Judul Buku : Militerisme Dan Anti Militerisme
Penulis : Karl Liebknecht
Penerbit : IRE Press

Tak ada topi Gessler yang pernah menemui kepatuhan yang memperbudak dan mempermalukan diri seerupa topi milik sang termasyhur Kapten dari Kopenick. Tak ada jubah sakral Trier yang pernah disembah-sembah seperti seragam yang dikenakan tukang sepatu itu.
Satir klasik ini, yang kehebatan pengaruhnya merongrong prinsip pendidikan militer hingga riwayatnya terancam, seharusnya dapat mengakhiri riwayat militerisme hingga jadi bahan tertawaan sedunia. Tapi masyarakat borjuis (yang tiba-tiba memainkan peran unik sebagai penyihir pemula, yang memanggil roh-roh tapi tidak bisa mengusirnya) begitu erat bergantung pada militerisme seperti halnya roti yang kita makan dan udara yang kita hirup. Konflik yang tragis! Kapitalisme dan kacung besarnya, militerisme, tak lagi saling mencintai; malah mereka saling takut dan benci satu sama lain, dan memang hal itu beralasan. Mereka memandangnya (sinis): begitu mandiri kacung ini jadinya. Dan berusaha bertoleransi: militerisme sebagai kejahatan yang dimaklumkan (necessary evil)

DibawahLentera Merah

Judul Buku : DibawahLentera Merah
Penulis : Soe Hok Gie
Penerbit : Ar-Ruzz

Dibawah pimpinan Semaoen, para pendukung Sareka Islam berasal dari kalangan kaum buruh dan rakyat kecil. Pergantian pengurus itu adalah wujud pertama dari perubahan gerakan Sarekat Islam Semarang. Dari gerakan kaum menengah menjadi gerakan kaum buruh dan tani. Saat itu sangat penting artinya bagi sejarah modern Indonesia, karena dari sini lahirlah gerakan kaum Marxis pertama di Indonesia…

Zaman Edan

Judul Buku : Zaman Edan
Penulis : Ronggowarsito (Pengantar:Bung Karno)
Penerbit : Jejak

Hidup di zaman edan
Gelap jiwa bingung pikiran
Turut edan hati tak tahan
Jika tidak diturut batin merana hati penasaran
Tertindas dan kelaparan
Tapi janji tuhan sudah pasti
Seuntung apapun orang yang lupa daratan
Lebih selamat orang yang menjaga kesadaran

Psikologi Kepribadian


Judul Buku :
Psikologi Kepribadian: Psikologi Barat Versus Buddhisme
Penulis : Ivan Tanuputera
Penerbit : Ar-Ruzz

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri; tak seorangpun yang dapat mensucikan orang lain. (Dhammapada XII, 9)
Mencari jati diri sebagai manusia adalah tugas yang maha berat dizaman ini. Ego diri manusia begitu klimaks sehingga butuk pencerahan batin agar kedamaian dan cinta kasih tercipta di dunia ini. Karena masalahnya adalah jiwa, maka untuk itulah ajaran Budha dan kajian psikologi dipertemukan dalam buku ini.
Buku ini memberikan gambaran dan perbandingan yang jelas tentang apa itu teori kepribadian, karakter manusia, pikiran dan kesadaran, persepsi atau pencerapan, cara kerja organ-organ indra, masalah mimpi, tentang parapsikologi, makna kelahiran kembali dan juga tidak ketinggalan tentang meditasi, yang semua itu bermanfaat dalam mencapai kesehatan jiwa dan fisik anda. Buku ini hadir untuk Ada, dan Anda sendiri yang akan menentukan jati diri sejati Anda!

Islam Trasedental

Islam Trasedental: Menelusuri Jejak-Jejak Pemikiran Islam Kuntowijoyo
Penulis : M. Fahmi
Penerbit : Pilar Media

Kuntowijoyo menawarkan metode Strukturalisme Trasendental sebagai epistimologi dan paradigma baru dalam studi Islam. Strukturalisme Trasedental merupakan sebuah metode alternatif dalam ‘membumikan’ al-Qur’an yang diyakini oleh Kuntowijoyo sebagai metode yang dapat mentransformasikan penafsiran subyektif ajaran-ajaran keagamaan untuk mengembangkan perspektif etik dan moral individual menjadi penafsiran obyektif yang memiliki fungsi perubahan sosial.
Konsep Trasedensi Islam Kuntowijoyo dibangun dalam tiga ‘pilar’ utama: humanisasi, liberalisasi dan trasedensi yang diderivasikan dari konsep amar ma’ruf, nahi munkar dan tu’minuna billah sebagaimana terkandung dalam QS. Ali Imron (3):110

Perang, Langit dan Dua Perempuan

Judul Buku : Perang, Langit dan Dua Perempuan
Penulis : Laksmi Pamuntjak
Penerbit : Freedom Institute

“Perbincangan filosofis tiga perempuan –Weil, Bespaloff dan Laksmi- ihwal kekerasan,perang, puisi dan hati. Esai puitis ini tak hanya mendalam, baris-baris kalimatnya menggemakan makna berganda-ganda. Disini filsafat tak Cuma mengusik, ia juga menawan dan cantik…” (Bambang Sugiharto)
“Dialog intertekstual ketiga perempuan ini –yang sangat peduli pada masalah zamannya- sangat relevan bagi intelektual pada masa ini dalam menyikapi kekerasan yang ada disekitar kita. Dengan penuh empati –namun tanpa kehilangan daya kritis atas pemikiran kedua perempuan yang suaranya tenggelam dalam akhir jaman- Laksmi melakukan suatu ‘intervensi’ budaya…” (Melani Budianta)

Agama Kekerasan

Judul Buku : Agama Kekerasan
Penulis : Abdul Qodir Shaleh
Penerbit : Prisma Sophie

Buku ini menawarkan sebuah pemetaan terhadap aksi kekerasan yang mengatasnamankan agama dalam lintasan sejarah Indonesia. Pemetaan tersebut merupakan sebuah usaha yang sangat tepat, karena sejauh ini belum ada sebuah pemetaan yang sistematis yang mendeskripsikan dan mengelaborasikan historisitas tindak kekerasan dengan mengatasnamakan agama di Indonesia. Oleh karena itu, buku ini lebih tepatnya telah melakukan sebuah rekonstruksi terhadap berbagai parsialitas bahasan tindak kekerasan yanga ada di Indonesia, khususnya kekerasan uang mengatasnamakan agama. Dari rekonstruksi tersebut diharapkan ada sebuah pemahaman yang sistematis akan berbagai peristiwa kelabu dalam historisitas agama-agama dan agama-negara di Indonesia.
Disamping itu, berbagai tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama itu kemudian ditelaah dari sudut pandang Islam. Bahasan ke-Islaman tersebut dimaksudkan untuk menjadi pedoman dan penghayata bagi siapapun bahwa Islam merupakan negara yang damai, agama toleran, agama yang mencintai kedamaian dan tidak mentolelir tindak kekerasan apapun bentuk dan subyek-obyek dari tindak kekerasan tersebut. Kesalah pahaman, klaim kebenaran dan hilangnya sense of dialogue antara agama, antar budaya, antar etnis dan atar komponen sosial hanya akan menimbulkan masa depan yang kelabu dan bahkan bisa dikatakan buram menyedihkan yang akan membawa kesengsaraan dan kehancuran yang bisa jadi akan menjadi trauma dan sindrom turunan yang terus berlangsung sampai pada anak keturunan kita. Bom waktu akan menanti kita kapanpun!
Karena itu, marilah kita bergandengan tangan, hidup dalam damai, penuh sikap toleransi, berperadaban dan humanis bersama buku ini.

Masyarakat, Sejarah dan Budaya Buton

Judul Buku : Masyarakat, Sejarah dan Budaya Buton
Penulis : Pim Schoorl
Penerbit : Djambatan

Sejarah masyarakat dan budaya kesultanan Buton merupakan kasus menarik dari sebuah negeri di Nusantara yang berabad-abad merupakan suatu kerajaan yang mandiri, kemudian menjadi bagian dari jajahan Belanda, Hindia Belanda.
Baru pada tahun 1960 wilayah kesultanan ini sepenuhnya terintegrasi kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Kabupaten Buton dan Kabupaten Muna, propinsi Sulawesi Selatan.
Dalam buku ini diuraikan proses perubahan yang dihadapi masyarakat kesultanan Buton ini dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, agama, ekonomi dan kebudayaan

Titik Tengkar Pesantren

Judul Buku :
Titik Tengkar Pesantren
Resolusi Konflik Masyarakat Pesantren
Penulis :
Hamdan Farchan
Syarifuddin
Penerbit : Pilar Media

Pesantren dalam kajian sosiologis, tidak sebatas menjadi pendidikan an sich, tetapi juga merupakan sistem sosial komunitas yang didalamnya terdapat nilai-nilai, tatanan, pola relasi dan kultur tersendiri. Sebagai sitem sosial, pesantren ternyata juga memiliki dinamika sebagaimana halnya masyarakat secara umum. Solidaritas sosial, harmoni dan potensi adanya konflik menjadi bagian integral didalamnya.
Hanya saja, dimensi konflik dunia pesantren hampir tidak mungkin dikenali, sebab dimensi ini sangat sensitif dan jarang terungkap. Jika ada yang berani membeberkan bisa jadi orang tersebut akan dianggap sembrono, kurang ngerti unggah-ungguh, dan akhirnya bisa kualat!.
Buku ini ingin mementahklan anggapan diatas. Melalui kacamata sosiologi, pemetaan mengenai mengapa terjadinya konflik dimasyarakat pesantren? Bagaimana model resolusi konflik yang dijalankan? Sejauhmana kontribusi Kiai sebagai elit pesantren dalam penyelesaian konflik? Kemudian bagaimana kultur pesantren mempengaruhi model penyelesaian konflik? Ternyata memang membutuhkan penjelasan. Sedemikian rupa, citra baku pesantren sebagai mandala (atau sejenis padepokan) yang didalamnya terdapat para santri yang mencurahkan tenaga dan pikiran untuk belajardan membentuk karakter, serta para Kiai yang menyerahkan diri dan jiwa mereka untuk memberikan pengajaran dan teladan hidup, masih bisa dipertahankan.
Memang membaca lembaran demi lembaran buku ini, mungkin saja dahi kita akan berkerut. Masyarakat pesantren yang notabene dekat dengan nafas keagamaan ternyata juga menyimpan banyak pamrih politik, ekonomi dan sosial yang membuatnya tak bisa menghindar dari persaingan dan perlombaan hidup duniawi. Ia, karena itu, sama sekali tak imun dari konflik. Wajar dan terima saja. Karena bagaimanapun orang-orang yang menghuni kawasan pesantren bukanlah malaikat atau para nabi. Lalu…?

Giyugun

Judul Buku : Giyugun, Cikal Bakal Tentara Nasional di Sumatera
Penulis : Mestika Zed
Penerbit : LP3ES

Identitas formal tentara Indonesia muncul pada masa revolusi 1945-1950. banyak unsur yang bergabung menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Salah satu diantaranya Giyugun Sumatera. Sayangnya, peran dan pengalaman mereka yang pernah mengikuti pelatihan militer semasa pendudukan Jepang di Sumatera itu cenderung diabaikan dalam historiografi militer Indonesia. Kajian akademis tentang Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) atau Jawa Boei Giyugun cukup banyak, namun kajian serupa tentang Giyugun Sumatera dalam bentuk biografi kolektif masih amat langka. Giyugun Sumatera, sebagaimana dikatakan Aiko Kurasawa dalam kata pengantar, sesungguhnya adalah saudara kembar PETA. Keduanya dibentuk oleh sebuah keputusan yang sama, tetapi berdiri secara terpisah. Buku ini khusus menganalisis peran yang dimainkan oleh para mantan Giyugun Sumatera dalam perjalanan sejarah Indonesia, utamanya sejarah militer Indonesia. Kajian yang menunjukkan keaneka ragaman tradisi dan profesi militer di Indonesia ini juga bisa dipergunakan untuk menelaah peran, kedudukan dan profesionalisme militer Indonesia sekarang ini.
Mestika Zed, lahir tahun 1955 di Batuhampar, Payakumbuh, adalah guru besar sejarah ekonomi politik pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu-ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Padang.

Dimensi-dimensi Islam

Judul Buku : Dimensi-dimensi Islam
Penulis : John Renard
Penerbit : Inisiasi Press

Islam. Yang termuda dari tiga agama Ibrahimiyah, Yahudi dan Kristen, berkembang pesat dengan sebuah wahyu dan melalui seorang Nabi. Benih kalam suci tersebut berkembang pesat, melalui kehidupan Muhammad saw, keluarga, sahabat dan seluruh umat Islam. Sebaliknya, umat Islam mengembangkan dimensi-dimensi kehidupannya juga bersumber pada wahyu Al-Qur’an dan keteladanan Rosululloh saw.
Ajaran dan umat Islam menjadi sesuatu yang unik dan sekaligus fenomenal dalam kehidupan umat manusia dimuka bumi ini. Islam ibaratnya seperti samudra tanpa tepi. Karena itu setiap usaha untuk membuat sebuah ‘jaring’ disekitar realitas tradisi spiritual dan kehidupan Islam secara luas, baik yang diekspresikan secara verbal maupun virtual, mungkin tampak ‘lancang’. Namun demikian kajian atas spektrum yang luas dan mendalam dari setting kultural dan sarat nilai ini, dapat membantu mendefinisikan dan memberi substansi pada gagasan tentang Islam dengan menggambarkan hubungan-hubungan kehidupan yang terinspirasi oleh tradisi-tradisi spiritual ajaran adiluhung ini.
John Renard, seorang pakar dan sekaligus simpatisan Islam menawarkan sebuah metode hybrid yang lebih sintesis daripada analisis, bahkan ekletis. Hasilnya adalah sebuah buku yang sangat komprehensif dan menarik, yang kini diindonesiakan dengan judul Dimensi-dimensi Islam. Tujuan utamanya adalah menunjukkan benang spritualitas ini, yang dapat dilihat melalui panjang dan lebarnya dunia Islam. Buku ini menjadi ‘wajib’ bagi mereka dan tentunya anda, yang peduli pada spiritualitas, intelektualitas dan seni, baik secara verbal maupun visual dan juga dengan dimensi-dimensi kehidupan umat Islam lainnya.

Teori Common Link

Judul Buku : Teori Common Link
Melacak Akar Kesejarahan Hadits Nabi
Penulis : G.H.A.Juynboll
Penerbit : LKiS

Buku ini menghadirkan sebuah teori dan perspektif baru dalam kajian hadits. Lewat teori common link yang dicetuskan oleh Joseph Schacht, Juynboll mampu melacak akar kesejarahan hadits nabi. Dan, lewat teori ini pula dia sampai pada kesimpulan bahwa tidak semua hadits yang termuat dalam kitab-kitab kanonik (kutub al-sittah/tis’ah) adalah otentik dan dapat dipertanggung jawabkan kesejarahannya. Ini merupakan kesimpulan yang provokatif dan kontroversial sehingga menarik untuk terus diperbincangkan dan di diskusikan.

Nalar Pendidikan Qur’ani

Judul Buku : Nalar Pendidikan Qur’ani
Penulis : M. Jindar Wahyudi
Penerbit : Apeiron Philotes

Praktik pendidikan Islam memang tidak pernah sepi dari sejarah pergulatan ide dalam menemukan identitasnya. Kegamangan demi kegamangan terus menyertai pencarian identitas ini seiring hadirnya berbagai gempuran pandangan dan teori yang berbasis kultur peradaban Barat. Hampir dapat dipastikan bahwa pandangan dan teori Barat bisa dijumpai diseluruh lapis dan struktur praktik pendidikan Islam. Dalam konteks seperti ini lantas muncul pertanyaan ‘masih adakah yang disebut dengan pendidikan Islam?’ ‘Bila ada lalu seperti apa?’
Buku ini hadir dalam kancah pergulatan sejumlah pertanyaan dan jawaban atas identitas pendidikan Islam. Dengan mengambil latar kritik atas teori-teori nativisme, empirisme, dan konvergensi dan dengan mengusung ‘nalar pendidikan qur’ani’ buku ini mencoba untuk mendialogkan secara kritis aktualisasi kebenaran ajaran Islam ditengah pusaran teori=teori tersebut. ‘Fitrah’ menjadi kata kunci penting yang ditawarkan untuk bisa keluar dari kemelut perdebatan yang sering kali berakhir dengan kebuntuan. Kekuatan buku ini terletak dalam pendekatannya yang kritis dan original untuk mendekati konsep-konsep pendidikan dalam al-Qur’an secara tematik.

Meruwat Muhammadiyah

Judul Buku : Meruwat Muhammadiyah
Kritik Seabad Pembaruan Islam di Indonesia
Penulis : Mu’arif
Penerbit : Pilar Media

Buku ini ditulis langsung oleh seorang aktifis muda Muhammadiyah. Penulis buku ini mengajak pembaca, termasuk warga Muhammadiyah sendiri untuk memperdebatkan kembali keberadaan Muhammadiyah sebagai Ormas yang mengklaim diri sebagai penggerak pembaharuan Islam di Indonesia melalui gerakan tajdid sekaligus tazhib-nya

Integrasi Ilmu Sosial

Judul Buku : Integrasi Ilmu Sosial
Upaya Integrasi Ilmu Sosial Tiga Peradaban
Penulis : Rachmad K. Dwi Susilo
Penerbit : ar-Ruzz

Selama ini, ada sebuah kecenderungan untuk menafikan peran dan sumbangan ilmuwan Islam terhadap dunia ilmu pengetahuan. Padahal ilmuwan Islam adalah penghubung kejayaan ilmu pengetahuan Yunani kepada kejayaan ilmu pengetahuan Barat pada masa pencerahan mereka. Sebelum Barat berjaya, sunia Islam telah menapakiu kejayaan yang gemilang dibidang ilmu pengetahuan.
Buku ini memberikan sebuah pencerahan baru bagi perkembangan ilmu sosial yang akan mencoba menjelaskan adanya integrasi antara peradaban Yunani-Islam-Barat. Tidak ada klaim, tidak ada kecurigaan dan tidak ada upaya saling bersubordinatif namun yang ada adalah upaya integrasi ilmu yang akan memberikan perspektif keilmuan baru di dunia ilmu sosial.

Perkawinan Dalam Kontroversi

Judul Buku : Perkawinan Dalam Kontroversi Dua Mazhab
Penulis : Ziba Mir-Hosseini
Penerbit : ICIP

Perdebatan tentang hukum keluarga merupakan wilayah yang sensitif di dunia Islam, menyingkap perjuangan antara kekuatan tradisionalisme dan modernisme. Kecenderungan yang berbeda didalam fundamentalisme Islam menimbulkan idealitas yang umum keinginan untuk memaksakan hukum Syari’ah, yang dipahami sebagai benteng terakhir model relasi sosial yang Islami.
Buku ini menggali teori dan praktik hukum Islam dalam dunia Islam kontemporer, memfokuskan dinamika perkawinan dan konsekuensi penjabarannya. Menggali cara dimana hukum Islam ditafsirkan dan diatur, buku ini juga menguji cara para pembela hukum melakukan manipulasi untuk mencarikan jalan keluar atas perselisihan tentang perkawinan dan pengasuhan anak. Dengan sumbangan yang sangat penting terhadap kajian ini, Ziba Mir-Hosseini menunjukkan bagaimana perempuan dapat bergeser pada elemen-elemen yang paling patriarkhis demi mencapai keuntungan mereka dan tujuan-tujuan material mereka.

Remaja

Judul Buku : Remaja, Apa Yang Kau Cari?
Penulis : Eni Enha
Penerbit : Palem

Masa remaja adalah saat yang penuh perubahan. Bukan saja fisik dan penampilan yang berubah, tetapi juga cara berfikir dan cara memandang dunia remaja sudah berbeda dengan masa ketika masih kanak-kanak, tetapi juga tidak sama dengan pandangan orang dewasa.
Sayangnya, sebagian orang masih menganggap remaja sebagai “anak-anak” sehingga tidak jarang sebagian remaja yang merasa dirinya tidak dihargai sebagai remaja. Akibat dari rasa tidak dihargai ini kemudian remaja sering melakukan hal-hal “aneh” dan kadang tidak masuk akal, misalnya susah diatur, tidak mau mendengarkan nasihat atau omongan orangtua dan sebagainya. Sebenarnya, apa yang mereka cari?
Buku ini mengupas tuntas segala hal yang menjadi permasalahan remaja.

Menjelajah Tubuh Perempuan

Judul Buku : Menjelajah Tubuh Perempuan Dan Mitos Kecantikan
Penulis : Annastasia Melliana S
Penerbit : LKiS

Benarkah hidup cantik itu enak? Bagi sebagian besar perempuan, menjadi cantik adalah impian. Demi meraih impian itu, mereka rela merogoh uang untuk “membeli” kecantikan tak peduli berapapun yang harus dibayar
Tapi seringkali, impian itu tinggal angan-angan belaka. Terutama bagi perempuan yang secara kodrat memang diciptakan “tidak cantik” atau tak punya akses untuk “menjadi cantik”.
Kecantikan kerap membelengu. Sekilas ia tampak mempesona. Padahal, untuk menjadi “cantik” seperti yang diharapkan, perempuan seringkali merasa tersiksa. Tuntutan untuk tampil cantik dan menawan itu tidak muncul dengan sendirinya, tapi datang dari tatanan masyarakat kapitalis-patriarkhis yang ingin menjadikan tubuh perempuan sebagai objek.
Buku ini mengajak anda menjelajahi tubuh sebagai mitos-mitos seputar kecantikan. Sebab, tidak selamanya cantik itu indah seperti yang umumnya dibayangkan. Kadang, cantik itu luka dan membuat anda tidak nyaman dengan tubuh dan tampilan anda.

Problema Rumah Tangga

Judul Buku : Smart Solving Problema Rumah Tangga
Penulis : Nabil Ibnu Muhammad
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar

Percayalah, bahwa kehidupan rumah tangga manapun di dunia ini, baik yang baru atau yang sudah lama, yang kekurangan harta atau kecukupan, takkan mungkin terbebas dari keluhan dan problem, baik dari pihak suami ataupun isteri. Ini adalah hal yang wajar dan biasa dalam kehidupan yang berusaha memadukan antara dua insan yang berbeda. Yaitu, pria dan wanita.
Baik suami maupun istri, terkadang merasa bahwa derita yang dialaminya adalah puncak kesengsaraan dan penderitaaan, atau bagai neraka yang tak ada seorangpun kuat menanggungnya. Padahal, sebenarnya merupakan hal yang biasa. Wajar adanya.
Dengan membaca buku ini, anda akan menemukan solusi-solusi cerdas atas berbagai problem yang biasa ada dalam rumah tangga, dan barangkali juga dalam rumah tangga anda. Ketika membaca buku ini, seolah para pakar yang sangat berkompeten dibidangnya, telah berdiskusi hangat dengan anda. Selamat bergabung, semoga masalah anda segera ada jalan keluarnya.

Full Filling Life

Judul Buku : Full Filling Life
Merayakan Hidup Yang Bukan Main!
Penulis : Parlindungn Marpaung
Penerbit : MQ Publisher

Pengetahun dapat diperoleh kapan dan dimanapun. Bahkan dari seekor nyamuk atau bahkan dari tiolet (maaf) sekalipun. Daya rekam atau daya lihat seseorang terhadap pengetahuan berbeda-beda. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh sejauh mana dari setiap detik waktu atau sejengkal ruang dipakai untuk menggali ilmu dan mengasah kepekaan spiritualitas. Dengan ilmu dan spiritualitas, kehidupan akan mencapai titik puncak kesadaran (ultimate) dan penyatuan hakikat (unity) seperti halnya dimensi ragawi dan ruhaniyah. Ini pula yang dipaparkan penulis lewat kemampuannya “menangkap” cerita-cerita dan pengalaman penuh hikmah yang selalu dijadikan pintu sebagai awal pengupasan berbagai persoalan hidup yang dialami manusia.

Muslimah Goes to CEO

Judul Buku : Muslimah Goes to CEO
Ayo, Jadi Momtrepreneur
Penulis : Betty Y. Sundari
Penerbit : Khansa’

Muslimah zaman sekarang, sudah bisa menjadi Chief Eksekutive Officer (CEO) dirumahnya sendiri! WoW! Kok, bisa? Bisa! Anda bisa menjadi direktur utama, pengatur strategi mencakup pengelola dan pemegang saham. Anda juga menjadi karyawan yang bisa memilih karyawan sendiri. Artinya anda dirumah tidak sekedar menjadi “bendahara” keuangan suami, tetapi anda bisa memerankan semua aspek manajerial didalam suatu perusahaan. Ya, karena anda adalah manager bagi manajemen wirausaha rumahan anda.
Andapun akan tetap menjalani fitrah sebagai istri dan ibu. Kalau keluarga bisa menjadi pendukung usaha, mengapa harus mencari “keluarga lain” alias perusahaan diluar yang memaksa anda menjadi pekerja? Anda berani mencoba?

Almanak Alam Islami

Judul Buku : Almanak Alam Islami
Sumber Rujukan Keluarga Muslim Milenium Baru
Penulis : Rachmat Taufiq Hidayat
H. Endang Saifuddin Anshari
Thomas Djamaluddin
Nia Kurnia
Penerbit : Pustaka Jaya

Almanak Alam Islami: Sumber Rujukan Keluarga Muslim Milenium baru disajikan dengan metode baru, unik dan langka dengan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti. Padat dengan informasi tentang Islam dengan segala aspeknya: al-Qur’an, Hadits, sholat (fardlu maupun sunnah) waktu sholat sepanjang masa, puasa, peristiwa-peristiwa penting dalam bulan ramadlan, haji dan umrah, tata cara khutbah, mesjid-mesjid utama Dunia Islam, kiblat umat sejagat, fatwa, kalender masehi dan hjijriah, tasawuf, tarekat, kebatinan, glosarium, akronim dan singkatan, Piagam Madinah, Nabi Muhammad saw, silsilah khalifah, dinasti-dinasti Dunia Islam, ilmuwan muslim, jumlah umat islam sejagat, ihwal nikah, kiat praktis menghitung harta waris, menelusuri jejak masuknya Islam ke Nusantara, Piagam Jakarta, Undang-undang Peradilan Agama, Kompilasi Hukum Islam, hingga kronologi sejarah Islam sejak istilah Arab tercantum pertama kali dalam prasasti Shalmaneser III sampai abad kedua puluh. Sangat tepat bagi anda yang memiliki komitmen pada masyarakat madani milenium baru.

Popular Culture

Judul Buku : Popular Culture
Pengantar Menuju Teori Budaya Populer
Penulis : Dominic Strinati
Penerbit : LKiS

Apakah yang populer perihal Popular Culture?
Dapatkah kita mengatakan bahwa Popular Culture itu baik atau buruk?
Bagaimana para ahli mencoba untuk memberikan pemahaman tentang Popular Culture?
Buku ini memberikan panduan yang gamblang dan komprehensif menuju teori-teori utama budaya populer. Dominic Strati menyediakan penilaian kritis tentang cara-cara bagaimana teori-teori itu mencoba memahami dan mengkaji budaya populer dalam masyarakat modern. Teori-teori itu diantaranya adalah teori tentang Budaya Massa, Madzhab Frankfurt, Industri Budaya, Strukturalisme dan Semiologi, Marxisme, Feminisme, Posmodernisme dan Populisme Budaya. Strinati menjelaskan bagaimana teoritisi seperti Adorno, Barthes, Althusser dan Hebdige bergulat dengan berbagai bentuk budaya populer dari jazz hingga Amerikanisasi acara televisi, dari majalah remaja hingga novel detektif. Setiap bab memuat petunjuk teks-teks kunci menuju bacaan lebih lanjut, dan merupakan sebuah bibliografi yang komprehensif.

Persekutuan Aneh

Judul Buku : Persekutuan Aneh
Pemukim Cina, Wanita Peranakan, dan Belanda di Batavia VOC
Penulis : Leonard Blusse
Penerbit : LKiS

Penulis buku ini, Leonard Blusse, mengajak kita untuk menelusuri misteri peristiwa lama di masa awal dan era keruntuhan Batavia. Peristiwa-peristiwa yang penting sekaligus aneh menyangkut apa yang dimasa itu disebut “hubungan-persetubuhan” antara orang-orang Belanda dan Cina di Batavia, proses interaksi antara VOC dengan Hindia Belanda, baik yang bersifat pribadi maupun Golongan; peristiwa-peristiwa yang memberikan entitas dan jejak tersendiri terhadap konstruksi atas kenyataan kekinian, baik menyangkut relasi etnisitas, perdagangan/kapitalisasi, gender, perang maupun hancurnya imperium atau monarki bisnis dan politik

Negara Integralistik

Judul Buku : Pandangan Negara Integralistik
Penulis : Marsillam Simandjuntak
Penerbit : Grafitti Press

Seiring runtuhnya rezim Soeharto, istilah negara integralistik kian meredup dalam wacana perpolitikan di Indonesia. Tetapi sebagai sebuah paradigma, konsep totaliter ini belum sepenuhnya terkikis dari alam pikiran, dan karenanya masih banyak mewarnai ungkapan dan tingkah laku sementara elite politik.
Buku ini menelusuri kembali dimana sebetulnya tempat dan kedudukan pandangan negara integralistik dalam penyusunan UUD 1945. secara kritis juga dikupas sumber filsafat pandangan itu yang pada hakikatnya bertentangan dengan asas kedaulatan rakyat. “buku ini adalah semacam berkas tangkisan atau gugatan balik, membela perkara kedudukan kedaulatan rakyat dan hak-hak dasar manusia dalam konstitusi” kata penulisnya.
Marsillam Simandjuntak, lahir 1943 di Yogyakarta, seorang dokter kemudian menjadi sarjana hukum. Terlibat dalam bidang sosial-politik sejak menjadi pemimpin organisasi mahasiswa di Jakarta dan gerakan mahasiswa 1966. ia juga salah seorang pendiri Forum Demokrasi pada tahun 1991

Carok

Judul Buku : Carok, Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura
Penulis : Dr. A. Latief Wiyata
Penerbit : LKiS

“Lokana daging bisa ejai’ lokana ate tada’ tambana kajabana ngero’ dara”
(Daging yang terluka masih bisa dijahit, tapi jika hati yang terluka, tidak ada obatnya kecuali minum darah)

Gus Dur Yang Saya Kenal

Judul Buku : Gus Dur Yang Saya Kenal
(Catatan Transisi Demokrasi Kita)
Penulis : Muhaimin Iskandar
Penerbit : LKiS

Akhirnya Gus Dur jatuh dari kursi kepresidenan. Seperti yang sudah banyak diduga banyak kalangan dan seperti yang dirasakan warga NU maupun PKB, langkah-langkah nekat Gus Dur menanggung resiko berhadapan dengan parlemen dan akhirnya kehilangan kekuasaan. Langkah-langkah Gus Dur sebagai presiden di zaman transisi menjadi perlu untuk dikaji lebih lanjut sebagai bahan penting untuk diteruskan. Beberapa agenda besar menjadi terhenti karena agenda tersebut kadangkala mengganggu kepentingan kekuatan-kekuatan politik yang masih dominan pada saat itu. Kekuasaan politik yang dominan itulah yang kemudian mampu menenggelamkan pesan yang sesungguhnya dari kebijakan-kebijakan yang diambil Gus Dur.

Mendamaikan Sejarah

Judul Buku : Mendamaikan Sejarah
Analisis Wacana Pencabutan TAP MPRS/XXV/1966
Penulis : Kasiyanto Kasemin
Penerbit : LKiS

Memutuskan hubungan masa lalu hanya bisa dicapai bila kita mampu berdamai dengan sejarah.
Tap MPRS/XXV/1996 telah melanggar hak dasar dan menghukum orang tak bersalah secara sewenang-wenang.

Kebangkitan Agama

Judul Buku : Kebangkitan Agama Menantang Politik Dunia
Penulis : Peter L. Berger (editor)
Penerbit : ar-Ruzz

Beberapa tahun silam, Presiden The Greve Foundation John Kizer, mengatakan, bahwa surat kabar penuh dengan pemberitaan mengenai pengaruh agama atas politik: kebangkitan evangelis di Amerika Latin, pertentangan Muslim-Kristen di Afrika, perselisihan antara orang Arab dengan Israel, perjuangan agama kaum sekularis di Turki, serangan kaum fundamentalis Muslim atas militer sekuler di Algeria, serangan fundamentalis Hindu terhadap partai Kongres di India.
Dan kini, tidak bisa dipungkiri, sesungguhnya apa yang dikatakan Kizer itu kembali menemukan “resonansi”-nya, pergulatan, pertentangan, pertarungan, perebutan pengaruh, kekuasaan atau bahkan hegemoni atara ranah agama dan politik terus bergemuruh. Agama bangkit, politik tak mau ketinggalan. Terjadilah kemudian, sebuah panggung “Kebangkitan Agama Menantang Politik Dunia”. Kasus ‘ketakutan Amerika’ (simbol politik dunia) atas Laden (representasi pengaruh agama) yang telah melahirkan kampanye buta anti-terorisme, adalah sekadar contoh paling mutakhir.
Persoalannya, bagaimana kita menyikapi fenomena tersebut secara lebih jauh, agar kita dapat melihat pengaruh agama dalam wilayah politik di abad ke-21 ini? Buku inilah jawabannya. Meski tidak menunjukkan pada kasusu terkini (pasca tahun 2000), toh naga-naganya , buku ini hendak menjawab segala problem diatas. Dalam bidangnya, buku ini jelas layak untuk diapresiasi, dibaca dan tentu saja dibeli, sebab ditulis oleh dedengkot-dedengkot intelektual kaliber dunia seperti Peter L. Berger, Tu Weiming, Jonathan Sack, George Weigel, David Martin, Grace Davie dan Abdullahi Ahmed An-Na’im. Tidak percaya? Buktikan sendiri setelah anda membacanya.

Keadilan Transisional

Judul Buku : Keadilan Transisional
Sebuah Tinjauan Komprehensif
Penulis : Ruti G. Teitel
Penerbit : ELSAM

Diawal abad ini, masyarakat dipelbagai belahan dunia melucuti kekejaman rezim otoritarian dan mulai membangun demokrasi. Disaat-saat adanya perubahan radikal seperti itu, mencuatlah sebuah pertanyaan penting: mestikah suatu masyarakat menghukum rezim masa lalu yang kejam itu atau membiarkan masa lalu menjadi milik masa lalu itu sendiri? Buku yang sangat menarik dan penuh inspirasi ini mengangkat isu tersebut pada tingkat yang baru, suatu tingkat yang menantang pelbagai terminologi dan konsep yang menjadi perdebatan kontemporer.
Dengan menggunakan pendekatan interdisiplin, Ruti Teitel menguak jalan bagaimana suatu masyarakat seharusnya merespon rezim yang jahat. Kendati argumennya melawan pandangan paten yang mengedepankan penghukuman, Teitel sendiri sangat menekankan bahwa bagaimanapun juga hukum tetaplah memainkan peranan yang sangat penting dalam periode perubahan radikal. Ia menggunakan pendekatan komparatif dan historis-interpretatif. Dengan itu ia menghadirkan pelbagai respon-respon konstitusional, legislatif dan administratif terhadap pelbagai ketidakadilan yang mengikuti perubahan politik. Dalam buku ini Teitel mengajukan sebuah konsepsi normatif yang baru tentang keadilan. Bagi Teitel, pemahaman tentang keadilan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh politik yang sangat kuat terhadap cahaya kerlip kedaulatan hukum (rule of law) yang menurut hematnya, telah menjadi simbol transisi liberal.
Buku ini sangat menantang pelbagai asumsi paten selama ini dalam kaitan dengan periode transisi. Karena itu, buku yang sangat provokatif secara intelektual dan pada gilirannya turun gunung ke ranah gerakan dan praksis patut dan semestinya dijadikan sebagai bacaan utama bagi para pengambil kebijakan, intelektual dan penggerak revolusi dan pejuang demokrasi baru.
Ruti G. Teitel adalah Ernst C. Stiefel Professor of Comparative Law di New York Law School, dimana ia juga mengajar mata kuliah hak asasi manusia internasional dan hukum konstitusional.

Tuanku Rao

Judul Buku : Pongkinangolngolan Sinambela Gelar Tuanku Rao
Teror Agama Islam Madzhab Hambali di Tanah Batak
Penulis : Mangaradja Onggang Parlindungan
Penerbit : LKiS

Apa yang mau dihadirkan dengan buku: Tuanku Rao, setelah 43 tahun menjadi kontroversi? Sejak terbit perdana tahun 1964 oleh Penerbit Tandjung Pengharapan dan ditarik kembali oleh penyusunnya sendiri, buku ini menyimpan kenangan keluarga, kontroversi yang belum dan mungkin tidak perlu selesai. Sebagaimana lumrah terjadi dalam diskursus akademik, khususnya kajian-kajian sejarah Indonesia, barangkali buku ini dapat diletakkan kembali dan diperkenalkan lagi kepada khalayak pembaca dan para peminat sejarah.
Inilah mengapa penerbit LKiS mencoba menghadirkan kembali, seperti apa adanya buku ini sebelumnya, baik bahasa, perwajahan bahkan setting-lay outnya. Tujuan daripada itu semua untuk mencoba menampilkan dan menangkap emotional sense dari buku ini dan setting sosial pada periode dimana buku ini terbit.
Bagi penerbit LKiS bukan pertama-tama alasan kontroversi itu yang memicu penerbitan buku ini. Lebih daripada itu, kehadiran kembali (reprint) buku ini untuk melihat wajah diskursus akademik kita tentang sejarah pada masa lalu yang umumnya sangat diskursif. Ketidak setujuan kita atas seluruh atau sebagian dari sebuah buku tidak serta merta mensahkan kita berbuat semaunya. Disana masih ada etika dan kebebasan dipanggung akademik. Itupula yang diajarkan Prof. HAMKA saat menulis buku: Antara Fakta dan Khayal “TUANKU RAO” (Bulan Bintang 1974) sebagai jawaban atas karya M.O. Parlindungan. Sekalipun keduanya berdebat dengan segala emosi dan argumentasi ilmiah, namun pada saat yang sama keduanya adalah seorang sahabat sekaligus mitra bersikusi yang saling menopang!

The Turning Point

Judul Buku : The Turning Point (Titik Balik Peradaban)
Sains, Masyarakat dan Kebudayaan
Penulis : Fritjof Capra
Penerbit : Jejak

Dinamika yang mendasari problem-problem utama kita –munculnya jenis virus baru, kriminalitas, perlombaan nuklir, polusi, bencana alam, inflasi, krisis energi- adalah satu dan sama. Semuanya merupakan residu peradaban yang terreduksi oleh sistem yang kita kenal dengan modernisme.
Sekarang kita sudah sampai pada puncak perubahan yang dramatis dan penuh resiko. Sebuah titik balik bagi keseluruhan planet. Disaat seluruh perangkat peradaban lama sudah menjadi usang dan tidak dapat lagi menggerakkan roda sejarah, kita perlu visi baru tentang realitas. Sebuah visi yang akan memungkinkan munculnya daya yang mampu mentransmisikan dunia kita ke dalam sebuah aliran yang padu, menjadi gerakan positif bagi perubahan sosial.
Fritjof Capra, seorang saintis kenamaan, penulis best seller internasional The Tao of Physics menghadirkan visi baru tersebut. Sebuah paradigma yang holistik tentang sains dan spiritualitas.

The Constitution of Society

Judul Buku : The Constitution of Society
(Teori Strukturasi Untuk Analisis Sosial
Penulis : Anthony Giddens
Penerbit : Pedati

….Sebuah karya paling penting yang mengupas tuntas teori besar sosiologi di Inggris pada dasawarsa terakhir….
….Pernyataan-pernyataan mengenai teori sosiologi dalam buku ini bisa disejajarkan dengan pernyataan Parsons dan Hubberman. Siapa saja yang tertarik pada perkembangan sosiologi sekarang ini, karakter teori sosial ataupun relevansi filsafat dengan teori sosial perlu membaca buku karya Giddens yang ditulis dengan gaya tajam dan meyakinkan….
….Buku Anthony Giddens ini menyajikan secara tuntas pandangan-pandangan teoritisnya…. Buku ini memiliki kualitas penyajian yang hebat, langka, serius dan penuh keahlian yang bisa kita dapatkan dari pengarangnyasehingga enak dibaca….
Anthony Giddens adalah dosen King’s College, Profesor Sosiologi di University of Cambridge.

Tangklukan, Abangan dan Tarekat



Judul Buku : Tangklukan, Abangan dan Tarekat
Penulis : Ahmad Syafi’I Mufid
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Perubahan kebudayaan karena strategi modernisasi juga memiliki dampak yakni kecemasan dan keterasingan. Gejala psikologis semacam ini mendorong sebagian warga kembali mengamalkan tarekat. Sebgai elemen Islam yang pertama kali diterima oleh orang Jawa, tarekat pada dekade 1980-an tumbuh dan berkembang dengan pesat. Salah satu aliran tarekat yang paling berpengaruh di Indonesia adalah tarekat Qadiriah wan Naqsabandiyah. Tarekat ini menjadi menarik karena ajaran dan pengamalannya relatif mudah dan tidak memberatkan termasuk bagi orang abangan dan tangklukan. Dengan demikian proses islamisasi melalui gerakan tarekat dipesisir utara Jawa ini kembali terulang kembali seperti awal kedatangan Islam.
Kajian dalam buku ini juga menyajikan hipotesis tentang kebangkitan kembali (revitalisasi) gerakan tarekat dipedesaan dan revitalisasi sufisme perkotaan.
Analisis yang terangkum dalam buku ini bersumber pada tesis magister antropologi Universitas Indonesia dan bahan-bahan untuk Disestasi yang ditulis kembali di Universitas Leiden, Belanda.

Syekh Muhammad bin Abdul Wahab

Judul Buku : Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ajarannya
Penulis : Syekh Ja’far Subhani
Penerbit : Citra

Siapapun, pendukung maupun penentangnya, mengakui peran dan kontribusinya dalam dinamika pemikiran Islam sejak abad kedelapan belas. Ditangannya, pandangan-pandangan puritan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayim menjelma sebagai salah satu khazanah pemikiran Islam yang patut DIPERHITUNGKAN.
Ajarannya tidak hanya menguasai daratan jazirah dari Saudi Arabia sampai Oman, tapi menerjang batas-batas geografis hingga Pattani dan Sumatra.
Benarkah ajarannya menjadi pemantik radikalisme? Kecurigaan semata tidaklah cukup untuk dijadikan dasar penilaian terhadap sebuah ajaran.
Diperlukan kajian yang komprehensif untuk mencapai sebuah kesimpulan….

Sisi Gelap Pulau Dewata

Judul Buku : Sisi Gelap Pulau Dewata
Sejarah Kekerasan Politik
Penulis : Geoffrey Robinson
Penerbit : LKiS

Citra negeri yang eksotik dan anggun membayangi setiap imajinasi kita tentang Bali, tentang ke-Bali-an. Namun, tak banyak yang tahu, dibalik angan-angan orang perihal Bali yang harmonis dan damai, ada banyak jejak sejarah yang menunjukkan betapa Bali juga negeri yang pernah dilanda kekerasan dan anarki politik.
Perang antar kerajaan, pembantaian ribuan tertuduh komunis, dan keterlibatan Bali dalam Revolusi Nasional telah menyeret Bali dalam kubangan konflik. Inilah sisi “lain” Bali, yang meruntuhkan “mitos” tentang kestabilan Bali dan identitas “Bali”
Buku ini ditulis dengan sangat tajam dan sangat baik… untuk pertama kalinya menghadirkan sejarah politik modern dalam kajian akademis tentang Bali… inilah karya gemilang yang harus dibaca oleh siapapun yang tertarik dengan Indonesia modern…

Sejarah Psikologi

Judul Buku : Sejarah Psikologi
Penulis : Dr. C. George Boeree
(Profesor pada Fak. Psikologi Shippensberg University)
Penerbit : Prisma Sophie

Apakah Anda ingin tahu alfabet yang muncul pertama kali di dunia? Ataukah Anda ingin paham kalender positivis ala August Comte? Atau malah Anda ingin tahu berbagai ungkapan Nietze atau Spinoza? Atau bahkan Anda ingin tahu secara mendetail sejarah filsafat dan psikologi dari awal sampai era kontemporer? Maka buku ini adalah buku yang tepat buat Anda.
Buku ini adalah salah satu magnum opus George Booree selain Personality Theories. Dalam buku ini, Booree menjelaskan pada Anda sejarah perkembangan filsafat, ilmu kedokteran dan kemudian mengantarkan Anda pada sejarah psikologi itu sendiri. Karena itu, buku ini pantas dijadikan acuan tidak hanya bagi para akademisi, tetapi juga bisa menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat umum, karena bentuk dan isinya yang lebih mengarah kepada “kumpulan pengathuan popular”. Jangan takut, bahasa yang ada didalamnya tidaklah rumit, karena disajikan dengan gaya bahasa yang sederhana dan bisa dikuasai oleh masyarakat awam.

Republik Tanpa Ruang Publik

Judul Buku : Republik Tanpa Ruang Publik
Penulis : (Kumpulan Makalah)
Penerbit : IRE Press

Pada masa Soeharto, kekuatan kapitalisme semu dan ototarianisme terbukti mendikte ruang publik, dimana berlangsung sebuah aktifitas ruang publik yang dipenuhi oleh doktrin pertumbuhan ekonomi yang berbalut dengan ketakutan terhadap moncong senjata. Sekarang pada masa reformasi, ada angin besar yang sudah terlanjur berhembus yaitu liberalisme. Dari liberasi lahir demokrasi pada satu sisi dan kapitalisasi pada sisi yang lain. Dua kekuatan itu demokrasi dan kapitalisasi bisa dikatakn sudah dengan leluasa menjalankan sepak terjangnya. Bahkan terkesan keterlaluan. Media massa hanya mengabdi pada rating tanpa peduli pada pendidikan; tata kota hanya mengindahkan kekuatan modal tanpa peduli pada hak publik terhadap ruang kota. Baik ruang publik abstrak maupun ruang publik material akhirnya hanya menjadi hamba dari tindakan konsumsi belaka. Dan ada yang terlupakan dalam proses liberalisasi ayitu kemerdekaan sipil dan pemenuhan hak-hak sipil dalam ruang publik. Diskursivitas antara ruang publik politis dan sistem politik itulah realisasi ide kedaulatan rakyat didalam masyarakat majemuk.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari berbagai nara sumber yang dirangkumkan dari panel setengah hari oleh yayasan SET Jakarta dengan tema “Menyelamatkan Ruang Publik Sebagai Sarana Kultur Demokrasi”, mencoba menggagas potensi-potensi pengembangan ruang publik dengan untaian masalahyang melatar belakanginya.

Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba

Judul Buku : Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba
Penulis : J.C. Vergouwen
Penerbit : LKiS

Buku ini mengkaji secara luas dan mendalam mengenai seluruh sisi kehidupan masyarakat Batak Toba: struktur sislsilah, konsep religius, persekutuan masyarakat, konsep hukum, hak pemilikan tanah, dan pemecahan masalah yang terjadi antar mereka.


Islam dan Radikalisme di Indonesia

Judul Buku : Islam dan Radikalisme di Indonesia
Penulis : Endang Turmudi & Riza Sihbudi (Editor)
Penerbit : LIPI Press

Dalam beberapa tahun terakhir ini, selain demokratisasi dan hak-hak asasi manusia (HAM), diskursus yang muncul ke permukaan politik domestik maupun internasional khususnya yang berkaitan dengan persoalan religio-politik, adalah mengenai “kebangkitan” Islam politik, seperti merebaknya fenomena “radikalisme” Islam. Dalam sejumlah literatur istilah Islam politik, radikalisme atau neo-fundamentalis memiliki tafsiran yang sulit untuk dibedakan satu sama lain. Istilah radikalisme umumnya dipakai untuk merujuk pada gerakan-gerakan Islam politik yang berkonotasi negatif seperti “ekstrim, militan dan non toleran” serta “anti Barat/Amerika”. Bahkan sejak 11 September 2001, istilah radikalisme dan fundamentalisme dicampur-adukkan dengan terorisme.
Dalam panggung politik domestik, bangkitnya gerakan-gerakan radikalisme keagamaan ditandai dengan maraknya aksi-aksi yang melibatkan massa yang dimotori berbagai kelompok Islam “garis keras”, yang umumnya memiliki persamaan dalam satu hal, yaitu menghendaki penerapan syari’at (hukum Islam) dibumi nusantara. Gerakan-gerakan ini muncul terkait erat dengan berbagai persoalan, seperti tidak adanya proses penegakan hukum secara adil dan sungguh-sungguh, serta ketidak adilan disektor sosial, ekonomi maupun politik.
Buku ini –yang merupakan merupakan hasil temuan tim ilmuwan LIPI yang mempunyai perhatian dibidang keislaman umumnya dan sosial politik Islam pada khususnya- berupaya untuk memberikan pemahaman yang mendasar mengenai fundamentalisme Islam dan memberikan masukan dalam perumusan kebijakan pengetahuan dan tekologi. Interrelasi antara hasil riset dengan perumusan kebijakan merupakan bidang yang memerlukan eksplorasi lebih jauh, sehingga bersifat komplementer satu sama lainnya.

Hak-hak Sipil Dalam Islam

Judul Buku : Hak-hak Sipil Dalam Islam Penulis : Markaz ar-Risalah
Penerbit : AL-HUDA

Barang siapa yang membunuh seorang mausia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya (QS. Al-Maidah: 23)
Hak Asasi Manusia (HAM) merupakan topik yang sangat penting dan menarik perhatian seluruh manusia serta seringkali disalah gunakan. Jutaan manusia rela mati demi merebut hak-hak asainya, begitu pula banyak manusia menjadikan HAM sebagai tameng dan sarana dan sarana untuk melampiaskan hawa nafsu dan demi meraih target-target pribadi. Bahkan negara-negara adikuasa menjadikan HAM sebagai sarana politik, ekonomi dan militer untuk menyerang negara lain dengan alasan telah melanggar HAM
Penyalah gunaan terjadi, pada awalnya karena perumusan HAM hanya bersandar pada manusia yang tentunya terkait dengan kepentingan individu, sosial, politik dan ekonomi masing-masing, yang menyebabkan perumusan HAM dipenuhi dengan bias-bias berbagai kepentingan tersebut.
Islam menghadirkan sebuah rumusan HAM yang bersumber dari Allah Swt Yang Maha Kaya dan Maha Mengetahui yang karenanya tidak memiliki kepentingan individual, melainkan hanya demi keselamatan manusia seluruhnya dan merumuskan HAM berdasarkan pengetahuan pasti, karena Dialah yang menciptakan manusia. Disamping itu, HAM Islam ini telah menjadikan fakta sejarah yang diamalkan oleh Rosulullah saw dan ahlul baitnya as yang maksum serta kaum muslimin yang saleh.Demikianlah buku ini menghadirkan rumusan HAM dalam tinjauan Islam secara kritis, kontekstual dan komprehensif.